Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cium Tangan untuk Bapak

Tulisan ini sebagai pengingat bahwa seseorang telah kehilangan sosok yang merawat dan mendedikasikan hidup untuk membesarkan serta mendidik seorang anak kecil sampai ia mampu memutuskan jalan hidupnya sendiri, saya. Hal sederhana “Cium Tangan untuk Bapak”, namun momen ini tidak akan pernah saya ulangi karena ia telah berpulang.

cium tangan untuk bapak

Jumat, 06 Januari 2023 bertepatan dengan tanggal 13 Jumadil Akhir 1444 H, bapak telah berpulang pada pukul 10.00 WIB. Perasaan sedih dan bangga, bercampur aduk menjadi satu. Sedih, memori di masa lalu seketika menyeruak dalam pikiran yang membuat air mata segera mengucur deras.

Teringat bagaimana paman-paman saya menceritakan tentang sosok bapak ketika saya masih kecil. Ia harus mencuri momen ketika akan keluar rumah, karena saya pasti akan menangis ketika mengetahui akan ditinggal pergi.

Pada momen yang lain, saya juga teringat bagaimana saya ngurusuhi bapak makan. Ketika beliau makan, pasti saya akan mengikutinya pergi ke dapur untuk minta ikut disuapi. Ia pun juga tidak ngresulo untuk menyuapi sambil jongkok − sedangkan dingklik yang sebelumnya digunakan diberikan agar saya bisa duduk dan makan dengan lahap.

Kenangan saat saya diajak pergi ke ladang naik sepeda tiba-tiba merasuk dalam ingatan. Dimana saya menangis sejadi-jadinya karena jatuh ke got dekat ladang gara-gara naik ke boncengan sepeda sendiri tanpa menunggu beliau. Ketika ia melihatnya, seketika saya segera dibawa pulang ke rumah.

Namun, satu sisi, saya bangga kepadanya. Dengan keimanan yang kuat dan taat menjalankan syari’at agama, serta kesehariannya yang sama sekali tidak kepincut soal dunia, ia mendapatkan hadiah dipanggil di hari Jumat yang saya husnuzhan ada keistimewaan dibaliknya.

Melawan Sirosis

Bapak mulai ada keluhan sekitar tahun 2020. Pada tahun 2021 beliau sempat melakukan rawat inap selama seminggu dengan threatment penyedotan cairan di dalam paru-paru. Diagnosa dokter spesialis dalam pada saat itu mengarah pada gejala liver.

Pengobatan yang dijalani pada saat itu cukup memperlihatkan progres yang bagus. Batuk darah yang sempat dialami, dan bengkak pada perut sudah sembuh. Tinggal menjaga pola hidup sehat dan memperbanyak istirahat, terutama tidak diperbolehkan beraktifitas berat.

Waktu terus berlalu, sembari mengkonsumsi putih telur dan minyak ikan gabus secara rutin, bapak menjalani aktifitas sehari-hari di rumah secara terbatas. Namun, lama-lama pasti ada bosannya, terkadang beliau tetap memaksakan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan; tahlilan, kuliah subuh, dan sebagainya. Padahal ini tidak diperbolehkan, apalagi naik kendaraan sendiri.

Seperti saya singgung di awal, bapak saya bukan tipikal yang neko-neko soal urusan dunia. Beliau hanya tahu soal ibadah, ibadah dan ibadah. Selalu husnudzon dengan siapapun, tidak pernah guneman macam-macam selama bergaul dengan lingkungan.

Maka tidak mengherankan jika saya sebagai anak seringkali sama sekali berpandangan berbeda soal menjalani kehidupan. Pada titik inilah yang kemudian membuat saya sangat berbeda dan sudah lama berjarak, bisa dikatakan saya sebagai antitesa bapak.

Sesimpel itulah cara bapak menjalani kehidupan, bahkan dikala sakit pun, ia tidak berfikir macam-macam. Selama tubuh masih bisa dibuat untuk shalat, dan tidak merasakan sakit yang terlalu, itu sudah cukup. Terkadang saya yang jengkel, tapi bagaimanapun, ya itulah karakter bapak.

Interval waktu 2021-2022, saya juga tidak pernah absen menemani bapak untuk kontrol rutin di rumah sakit. Sampai kemudian bulan Desember lalu, penyakit yang diderita semakin kambuh, terlihat terjadi pembengkakan pada bagian perut sampai kaki. Dokter dengan tegas menyebut bahwa bapak saya menderita Sirosis.

Apa itu Sirosis? Ringkasnya adalah semacam kerusakan pada hati/liver. Disfungsi ini menyebabkan gagalnya organ hati membagi nutrisi pada tubuh. Efek yang timbul adalah produksi air berlebih di luar pencernaan dan di dalam tubuh. Pada saat opname di akhir tahun, dokter melakukan tindakan berupa penyedotan air tersebut agar tidak mengganggu fungsi organ dalam lain.

Ciri paling khas dari penderita Sirosis, berdasarkan hasil pemeriksaan lab adalah terjadi penurunan kadar albumin dalam tubuh. Makanya dokter menyarankan kepada bapak untuk mengkonsumsi rutin putih telur sehari 5 butir dan minyak ikan gabus. Pasalnya dua makanan inilah yang bisa menghasilkan albumin.

Manusia berkewajiban berikhtiar, begitu juga bapak dan keluarga − waktu, pikiran, tenaga dan biaya dikeluarkan untuk kesembuhan bapak. Namun apa daya, Allah berkehendak lain. Pasca sepulang opname akhir tersebut kondisinya semakin memburuk, sampai satu bulan kemudian bapak berpulang.

Cium Tangan untuk Bapak

Saya bukan tipikal anak yang dekat dengan sosok bapak. Sangat berbanding terbalik dengan riwayat memori kenangan-kenangan masa kecil. Ntah sejak kapan hubungan berjarak itu dimulai. Faktor perbedaan cara pandang terhadap banyak hal yang kemungkinan secara alami memperlebar jarak hubungan saya.

Ketika waktu sakit tiba, tanggungjawab merawat adalah sebuah kewajiban. Pun uring-uringan terkadang terjadi, tetapi tetap, mengalahkan perkara lain untuk merawat demi kesembuhannya adalah yang utama.

Bagi sebagian besar relasi bapak dan anak pada umumnya, terdapat tradisi sungkem minimal satu tahun sekali di waktu hari raya Idul Fitri, tetapi tidak bagi saya. Mencium tangan seorang ayah merupakan etika dan tradisi yang berlaku di masyarakat kita yang tentu ada nilai keutamaan di dalamnya. Saya tahu itu, namun, ntah karena malu atau jaim untuk melakukannya, saya sama sekali tidak pernah melakukannya.

Kenangan masa kecil yang terekam dalam pikiran begitu saja muncul di kala menemani bapak terbaring di rumah sakit. Memori bagaimana dulu bapak merawat saat saya masih kecil membuat saya merasa berdosa besar, merasa bahwa saya telah banyak berbuat dosa kepada bapak. Sebagai anak, saya merasa belum bisa berbakti kepadanya. Begitu banyak hal yang belum bisa saya balas atas semua yang telah dia curahkan kepada anak satu-satunya.

Melihat kondisinya yang semakin lama semakin memburuk, air mata saya tak terbendung. Sembari membacakan Surat Yasin di sampingnya, saya juga mencoba mengajak ngobrol dengan bapak, meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah saya lakukan dikala ia masih sehat. Bapak yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa merespon ucapan saya dengan meneteskan air mata.

Yasin dan kalimat tahlil terus saya dengungkan di samping bapak. Sampai kemudian tepat pada Pukul 10.00 WIB, Jumat, 06 Januari 2023, bapak telah kembali ke hadapan Sang Khaliq. Saya yang tidak pernah sungkem dengan bapak, dengan perasaan sedih dan bangga, saya mencium tangan, kening dan pipinya untuk kali pertama dan terakhir yang momentum itu tidak akan pernah terulang lagi.

Untuk bapak saya, Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu

Alfatihah.....