Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menghidupkan Kembali Benda Zaman Purba dengan Linux Mint

Sekitar satu bulan terakhir ini, saya bergelut dengan segala macam tools Linux Mint yang terinstall di laptop. Cukup menyenangkan karena banyak hal baru disini mengingat saya pengguna Windows sejak pertama kali mengenal komputer. Namun tidak dipungkiri, seperti kebanyakan orang bilang, menggunakan linux itu ribet, harus setting-setting dulu biar bisa digunakan dengan normal, dan ini memang benar, saya sendiri merasakan.

Pun begitu, "bermain" linux tetap ada manfaatnya, contohnya˗benda zaman purba di rumah˗berupa laptop lawas yang sudah lama tidak saya gunakan akhirnya bisa digunakan dengan performa power full berkat saya pasang OS Linux Mint.

Menghidupkan kembali benda zaman purba dengan linux mint

Alasan Menghidupkan Kembali Laptop Zaman Purba

Saya tipe orang yang susah untuk fokus, sehingga ketika membuat laporan pekerjaan atau segala hal yang mengharuskan menghadap layar monitor yang lebar, saya lebih nyaman mengerjakannya di kamar kerja yang ada di rumah.

Sendiri, ditemani musik favorit, perangkat kerja lengkap, tidak ada yang ngajak ngobrol, dan yang terpenting lagi˗internet wifi lancar; nuansa semacam ini yang bisa membuat saya lebih fokus untuk melakukan tugas dan pekerjaan yang berkutat soal data.

Makanya, saya lebih memilih membangun PC dengan spek yang mumpuni untuk mendukung pekerjaan dan sesekali bisa main Valorant dan Genshin Impact, dari pada laptop. Pekerjaan beres, main game juga lancar.

Kebetulan˗pekerjaan selama ini˗bisa saya pola demikian, siang di lapangan, malamnya buat laporan. Jadi ketika berada di lapangan, fokus dengan tugas-tugas di lapangan, baru setelah sampai rumah saya bisa fokus mengerjakan laporan-laporan yang berkutat dengan word dan excel di depan layar monitor 24 inch.

Sayangnya, lama-kelamaan situasi berubah, tagihan laporan semakin sering dan terkadang tidak kenal waktu, alias ndak iso disemayani. Dan di beberapa kesempatan, terkadang saya mengikuti pelatihan teknis yang mengharuskan untuk membawa laptop, pasti saya harus mencari pinjaman.

Nah, pada titik ini, saya menyadari bahwa sudah tidak bisa lagi hanya mengandalkan PC yang ada di rumah untuk melakukan pekerjaan, saya juga perlu laptop yang ready dipakai kapanpun dan dimanapun.

Masalahnya lagi˗kebetulan anggaran pas-pas-an, disamping itu teringat ada laptop di masa kuliah yang lama tidak terpakai. Daripada mubadzir, akhirnya saya memilih menghidupkan kembali benda zaman purba ini daripada membeli laptop baru lagi. Kalau kata teman saya, lebih baik servis daripada beli lagi dengan tujuan mengurangi sampah elektronik di muka bumi.

Amatir tentang Linux, tapi tenang, sekarang ada ChatGPT

Seberapa ribet menggunakan Linux? Kalau saya boleh jujur, sangat ribet. Tidak seperti Windows yang klik ini klik itu, beres tinggal pakai.

Masuk sebagai pengguna baru, tentu saya masih pada level skill issue kalau suhu-suhu mengistilahkannya di dalam group Facebook Linux Indonesia, intinya masih amatir banget. Banyak hal yang belum diketahui tentang istilah-istilah di dalam Linux.

Jadi saya sebenarnya memang butuh banget mentor untuk benar-benar bisa menggunakan linux dengan nyaman. Nah, masalahnya siapa? Nyatanya melihat kawan-kawan di sekitar nggak ada yang pakai linux.

Sejak saat inilah, akhirnya saya iseng-iseng mencoba tanya satu hal atau beberapa hal terkait teknis pengoperasian linux ke ChatGPT. Dan coba tebak apa yang bisa ia berikan untuk saya, informasi-informasi yang ditampilkan sangat presisi dan bisa mengatasi permasalahan-permasalahan yang saya alami saat mengoperasikan linux.

Yang ingin saya sampaikan adalah, memang menggunakan linux itu ribet, namun bagi kalian yang ingin mencoba tidak perlu khawatir, sekarang akses informasi begitu mudah dan simpel. Bisa kalian mencoba AI, salah satunya ChatGPT untuk menemani waktu kalian untuk mengeksplor linux lebih dalam lagi.

Linux Mint, Performa Laptop Jadul dan Kompatibilitas untuk Kerja

Oh ya, perlu kalian ketahui, distro linux yang saya gunakan ini adalah Linux Mint Cinnamon. Salah satu macam distro yang banyak direkomendasikan bagi pemula, terutama bagi mereka yang baru saja migrasi dari Windows.

Linux mint memiliki tampilan yang tidak jauh berbeda dengan windows, jadi pengguna baru bisa dengan lebih mudah beradaptasi dengan tampilan dan tata letak menu pada jenis linux ini.

Selain itu juga, distro linux satu ini terkenal karena tidak memakan RAM terlalu banyak. Mengingat memori yang terpasang di laptop jadul saya hanya 4 GB saja, saya memutuskan untuk menginstal linux mint.

Hasilnya? Sangat memuaskan. Dulu waktu masih menggunakan windows 10 64 bit di laptop saya, hanya membuka windows; belum membuka aplikasi yang lain, ram 4 gb sudah tersisa sedikit. Berbeda dengan linux mint, posisi idle hanya membuka OS; konsumsi ram-nya cuma menghabiskan 500 MB, jadi memang sangat lega teruntuk laptop saya yang megap-megap ini.

Laptop jadul saya menggunakan processor AMD A4-3330MX dual core @2.300 Ghz, GPU internal AMD ATI Radeon HD 6480 Ghz, dan memori RAM 4 GB. Bayangkan laptop dengan spek kayak gini, zaman sekarang bisa melakukan apa coba, baru menyalakan tombol power dan buka windows aja; suara kipas sudah nggak karuan kencangnya.

Setelah pakai Linux Mint,  laptop jaman purba saya sekarang sudah bisa kembali hidup dengan lumayan tenang. Minimal, bisa bebas buka tab browser berapapun meski hanya bermodal ram 4 GB.

Linux Mint bisa nggak buat menyelesaikan tugas-tugas atau laporan kantor ?

Jawabannya bisa, tetapi memang perlu banyak latihan dan pembiasaan ketika menggunakan OS Linux, pasalnya di dalamnya kita tidak lagi menggunakan aplikasi-aplikasi produk dari Microsoft, misalnya Office.

Di dalam Linux, kita harus membiasakan diri memanfaatkan aplikasi-aplikasi alternatif, yang mungkin secara fungsi mirip dengan aplikasi di Windows. Misalnya untuk mengolah data dan dokumen, kalau di Windows ada Microsoft Office, maka di linux kita bisa menggunakan aplikasi alternatif seperti LibreOffice, WPSOffice atau aplikasi sejenis lainnya.

Sesuai pengalaman, laptop jadul dengan performa seadanya, jendela pakai OS Linux bisa digunakan untuk kerja, yang perlu digaris bawahi; terpenting jangan males untuk beradaptasi.

Kesimpulannya, Linux Mint sangat cocok digunakan untuk menghidupkan kembali laptop atau komputer jadul, dari pada nganggur mending dihidupkan lagi, siapa tau ada gunanya, minimal ketik-ketik, blogging, browsing, ndengerin musik online, internetan lancar tanpa khawatir spek terbatas.

Dah, sekian dulu tulisannya. Saya tidak bermaksud pembaca untuk bermigrasi ke linux, toh di komputer utama, saya juga masih menjadikan Windows sebagai jendela utama. Sedangkan Linux Mint di laptop jadul ini, hanya buat bersenang-senang dan wahana nostalgia saja, dan yang terpenting saya tidak perlu cari pinjaman laptop lagi.

Salam.