Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Orang Tua yang Lebih Baik - Review FDS PKH Yogyakarta


KANG IZZA - Selamat datang pembaca yang Budiman sekalian. Terimakasih telah meluangkan waktunya berkunjung di blog pribadi saya, semoga bapak ibu senantiasa diberikan kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan mudah-mudahan melalui blog ini senantiasa kita mendapatkan informasi dan ilmu yang bermanfaat. Pada artikel kali ini saya akan berbagi mengenai “Menjadi Orang Tua yang Lebih Baik”. Ada beberapa point yang penting untuk pembaca ketahui dan akan saya sampaikan dengan singkat, padat dan jelas.

Pertama, orang tua adalah panutan bagi anak. Sebenarnya pakem ini sudah ada di tengah masyarakat dengan ungkapan “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya”. Karakter anak di masa dewasanya nanti merupakan cerminan dari karakter orang tuanya. Setiap orang tua, tak terkecuali KPM PKH, tentunya menginginkan anaknya nanti tumbuh dewasa menjadi anak yang berkarakter, luwes dalam bersosial dengan lingkungan, sampai akhirnya membawa kesuksesan di masa depannya kelak. Impian-impian semacam ini berkonsekuensi para orang tua juga harus ikut bermuhasabah tentang dirinya agar bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya. Orang tua harus konsisten (kesesuaian) antara ucapan dan perbuatan. Jika orang tua baik maka potensi kebaikan itu semakin besar akan ditularkan kepada anaknya. Selain itu, orang tua memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada anak dengan cara memberikan reward yang tepat. Ketika anak berperilaku baik kasih penghargaan, dan jika sebaliknya, maka berikan sanksi sewajarnya tanpa adanya kekerasan.

Kedua, ayah dan ibu bekerjasama sebagai tim. Ayah dan ibu memiliki pembawaan karakter yang berbeda. Umumnya orang, biasanya seorang ayah memiliki kepribadian Koleris yang cerdas, tegas, disiplin, analitis, dan praktis. Sedangkan seorang ibu umumnya dia berkepribadian melankolis yang lebih lemah lembut, pandai dalam mengelola keuangan, sabar dan semacamnya. Perbedaan dua sosok orang tua ini sangat mempengaruhi bagaimana proses pengasuhan anak-anaknya dan bagaimana karakter anaknya kelak. Anak lebih dekat dengan siapa, akan membuat kecenderungan kepribadian anak itu sendiri. Anak yang merupakan tanggung jawab keduanya, baik ayah atau ibu, sudah sepatutnya perlu bekerja secara tim dalam pengasuhannya di tengah-tengah kesibukan ayah yang mencari nafkah dan ibu yang mengurus rumah tangga, sehingga tidak ada lagi cerita tentang anak yang sampai haus akan perhatian dari kedua orang tuanya. Implementasi kerjasama antara ayah dan ibu dalam mengasuh anak ini bisa diwujudkan juga dengan cara membuat keputusan bersama secara konsisten. Ketika menemui sebuah problem keluarga misalnya, di tengah kondisi ekonomi yang drop kemudian tagihan-tagihan sudah jatuh tempo, maka hal ini bisa dimusyawarahkan antara keduanya, sehingga beban tanggung jawab keluarga memang benar-benar dirasakan bersama. Selain itu juga bentuk kerjasama lainnya bisa diwujudkan dengan cara menghindari konflik di depan anak, sebab hal ini akan mengganggu psikologi anak ketika di rumah.

Kesimpulannya adalah, untuk menjadi orang tua yang lebih baik bisa dilakukan dengan :
  1. Menjadi panutan anak : memiliki konsep diri positif, konsisten antara ucapan dan perbuatan, penuh kasih sayang dan tanpa kekerasan (memukul, mencubit, menjewer, dsb).
  2. Ayah dan ibu bekerjasama tim : melibatkan ayah dalam pengasuhan, membuat keputusan bersama, dan menghindari konflik di depan anak.
Mokhamad Nurul ‘Izza, PS PKH Pogalan Trenggalek, 18-08-2020, 21.14 WIB