Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Harga Pertamax Naik, Bagaimana Nasib Pengguna Motor Supra-X?

Dikabarkan pemerintah menaikkan harga pertamax per 01 April 2022. Kenapa ya kok netizen geger di media sosial? Apakah mereka semua kalo ngantri di SPBU ikut antrian di barisan pertamax?. Narasi untuk mengolok-olok kembali digaungkan. Biasanya lho ya, yang kelakuannya kayak gini adalah kebiasaan para lasykar. Eh, tapi nanti dulu, coba kita cari dari sudut pandang lain.

Harga Pertamax Naik, Bagaimana Nasib Pengguna Motor Supra-X?

Dikutip dari cnnindonesia, Rabu (30/2), Menteri BUMN, Erick Tohir mengungkapkan bahwa naiknya harga pertamax dipicu harga minyak mentah dunia yang mencapai harga lebih dari US$100 per barel.

Ia juga menjelaskan, PT. Pertamina (Persero) tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah, sedangkan untuk pertalite mendapatkan subsidi.

Jadi jelas ya gaes, rencana pemerintah menaikkan harga BBM ini hanya berlaku untuk pertamax, sedangkan pertalite tidak. Beberapa sumber media nasional memprediksi kenaikan harga pertamax ini ada di angka Rp.14.000 per liter. Perlu kita buktikan nanti kalo kita ngepom.

Lantas netizen se-Indonesia kok muring-muring? Apakah salah seandainya pemerintah menaikkan harga pertamax? Pemerintah berdalih, ngapain juga mensubsidi kelompok masyarakat yang memiliki kendaraan-kendaraan mewah?

Hati Pengguna Motor Supra-X Lebih Damai dengan Pertalite

Saya tergerak untuk menuliskan opini ini berangkat dari cuitan-cuitan netizen di twitter yang terpolarisasi antara kubu pemerintah dan kubu para lasykar.

Secara garis besar, bangunan mindset mereka berdasar dari suka dan tidak suka. Kelompok pemerintah pasti akan membuat narasi-narasi untuk menguatkan kebijakan apapun itu wujudnya, sedangkan kubu lasykar melihat ini sebagai momentum untuk menyerang pemerintahan kubu Jokowi.

Saya ingin mengajak kalian melihat kebijakan ini dari sudut pandang lain, biar kita tidak ikut-ikutan polarisasi para buzzer itu.

Supra-X, motor bebek legenda paling paripurna yang tak pernah lekang oleh zaman dikala motor-motor matic dengan cc besar bermunculan, bisa dikatakan sebagai representasi masyarakat yang nriman, tidak butuh kendaraan yang cepat, yang terpenting sampai tujuan, patut juga diberikan perhatian dengan adanya kenaikan harga pertamax.

Idih .... motor cuma Supra-X sok-sokan kena dampak kenaikan pertamax, gimana ceritanya. Hmm .... jadi begini bestie, benar bahwa hati pengguna motor Supra-X lebih bahagia dengan pertalite, benar bahwa kebijakan pemerintah ini hanya akan menaikkan harga pertamax, lantas apakah ini tidak akan berdampak kepada masyarakat kelas bawah?

Secara aspek ekonomi, setidaknya masyarakat kita terbagi menjadi 3 kelas, kelas ekonomi atas, menengah dan bawah. Jumlah masyarakat kita lebih didominasi kelas menengah dan bawah.

Ini secara garis besar aja ya, pasalnya memang sulit untuk menentukan kondisi ekonomi seseorang. Misalnya di daerah saya saja, ada orang yang memiliki rumah bagus, berlantai dua, tapi nyatanya ekonomi di dalam kropos, terlilit hutang bank. Atau sebaliknya, rumah terlihat biasa, tapi kepemilikan aset yang luar biasa banyak. Jadinya ya sawang-sinawang kalo membincang soal ekonomi.

Sebetulnya tepat-tepat saja pemerintah menaikkan harga pertamax karena memang harga minyak mentah dunia sedang naik-naiknya. Toh kemudian pertamax sendiri diperuntukkan untuk masyarakat kelas atas dengan kendaraan mewah nan mahal, jadi memang seharusnya tidak menjadi soal.

Tetapi, dengan mentalitas masyarakat kita, yakinkah kalian bahwa hal ini tidak akan berdampak?. Secara perlahan, kebijakan pemerintah ini akan berdampak terhadap naiknya harga produk-produk atau komoditas lainnya, meskipun tidak semuanya ya.

Ada juga penjual rokok di warung atau toko kelontong bisa saja bermain-bermain menaikkan harga dengan dalih harga bensin naik. Dalam hati berkata, padahal ini kan yang cuma pertamax yang naik bambaaank, apa hubungannya coba. Pasti kalian punya pengalaman ini.

Masyarakat dengan kelas ekonomi menengah juga tidak jarang yang memiliki kendaraan-kendaraan mewah baik roda dua maupun roda empat. Jika harga pertamax ini lompatannya terlalu tinggi, maka tidak menutup kemungkinan, mereka pun juga akan berfikir dua kali untuk membeli pertamax.

Efek Domino Kebijakan Pertamax Terhadap Pengguna Pertalite

Lonjakan harga pertamax tentu saja membuat masyarakat pengguna akan pikir-pikir juga untuk terus membelinya. “Lha wong mau beli pertamax harganya ngeri gitu, mending beli pertalite aja, lebih murah dan toh juga motor masih bisa jalan.” Kira-kira begitu pertimbangan pengguna pertamax.

Sebut saja pemilik motor Supra-X, Shogun, Jupiter, Honda Grand dan motor seangkatannya, lagi-lagi mereka lah yang nantinya akan merasakan dampak. Bagaimana tidak, masyarakat kita tidak semua teredukasi mengenai peruntukan pertalite untuk masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah.

Pertalite diperuntukkan kepada masyarakat yang kalau diindikatori dari kepemilikan kendaraan bermotor seperti yang saya sebutkan tadi, jenis Supra-X dan kawan-kawannya itu.

Sedangkan motor-motor matic dengan cc besar yang banyak digunakan masyarakat semacam Yamaha NMAX, Honda PCX dan sejenisnya dengan harga 30an juta itu, yang paling tepat menggunakan pertamax untuk performa terbaik dan kesehatan motor itu sendiri. Tapi, kalau selisih harga segitu banyaknya, empat belas ribu rupiah, apa ya mereka akhirnya nggak memilih ikut antrian pertalite yang lebih murah.

Belum lagi yang kendaraan roda empat, yang mewah ya maksudnya. Pemerintah sudah memiliki dasar yang kuat untuk menaikkan harga pertamax, mereka tidak ada alasan untuk memberikan subsidi kepada pengguna pertamax, ngapain juga nyubsidi orang kaya.

Siapa maksudnya mereka? Mereka itu ya yang mobilnya itu seperti Mitsubishi Pajero, Toyota Fortuner, Toyota Alphard, Honda Jazz dan mobil-mobil sekelasnya yang estimasi harga 200 jutaan ke atas.

Memang siih, mobil-mobil keluaran terbaru sudah dipatok dari pabrik hanya bisa diisi dengan BBM kandungan oktan tinggi. Terlepas dari itu, kalau sudah ngomong Pajero atau Fortuner, meskipun keluaran generasi pertama, ya tetap kategori mewah. Kelompok ini juga tidak menutup kemungkinan ikut ngantri pertalite disamping motor-motor bebek semacam Supra-X dan Jupiter.

Efek domino kebijakan pemerintah terhadap kenaikan harga pertamax ini pasti akan menyebabkan konsumsi pertalite di SPBU over, kalau perlu sampai tidak kebagian. Tidak ada pihak yang sepenuhnya benar atau salah dalam konteks ini. Kita sebagai masyarakat perlu memupuk kesadaran bersama, disamping perlu juga untuk sedikit menengok isi dompet, kalau isinya berlembar-lembar ratusan ribu, lha ya mbok beli pertamax saja.

Jadi, hey kalian yang mobilnya Pajero, Fortuner. hey, kalian yang motornya NMAX, PCX, ha mbok ikut antrian di barisan pertamax saja, apa nggak malu kalo ikut ngantri bareng Supra-X, Shogun, Honda Grand, Jupiter di barisan pertalite. 

Begitulah kura-kura.

Saya tak berangkat antri pertalite dulu, dari pada kebagian pertamax yang mehong.